Nama              : Fathurrahman Aziz Munawir

NRP                : A24100094

Nama Laskar : Soekarno (Laskar 1)

Cerita 1:

Jatidiri Kita yang Sebenarnya

Alkisah, di tengah samudra yang maha luas, tampaklah ombak besar sedang bergulung-gulung dengan suaranya yang menggelegar, tampak bersuka ria menikmati kedasyatan kekuatannya, seakan-akan menyatakan keberadaan dirinya yang besar dan gagah perkasa.

Sementara itu, jauh di belakang gelombang ombak besar, tampak sang ombak kecil bersusah payah mengikuti. Ia terlihat lemah, tertatih-tatih, tak berdaya, dan jauh tersisih di belakang. Akhirnya, ombak kecil hanya bisa menyerah dan mengekor ke mana pun ombak besar pergi. Tetapi, di benaknya selalu muncul pertanyaan, mengapa dirinya begitu lebih lemah dan tak berdaya?

Suatu kali, ombak kecil bermaksud mengadu kepada ombak besar. Sambil tertaih-tatih ombak kecil berteriak: “Hai ombak besar. Tunggu!”

Sayup-sayup suara ombak kecil didengar juga oleh ombak besar. Lalu sang ombak besar sedikit memperlambat gerakannya dan berputar-putar mendekati arah datangnya suara. “Ada apa sahabat?” Jawab ombak besar dengan suara menggelegar hebat.

“Aih.pelankan suaramu. Dengarlah, mengapa engkau bisa begitu besar? Begitu kuat, gagah, dan perkasa? Sementara diriku. ah. begitu kecil, lemah dan tak berdaya. Apa sesungguhnya yang membuat kita begitu berbeda, wahai ombak besar?”

Ombak besar pun menjawab, “Sahabatku, kamu menganggap dirimu sendiri kecil dan tidak berdaya, sementara kamu menganggap aku begitu hebat dan luar biasa, anggapanmu itu muncul karena kamu belum sadar dan belum mengerti jati dirimu yang sebenarnya, hakikat dirimu snediri”. “Jati diri? Hakikat diri? Kalau jati diriku bukan ombak kecil, lalu aku ini apa?” Tanya ombak kecil, “Tolong jelaskan, aku semakin bingung dan tidak mengerti.”

Ombak besar meneruskan, “Memang di antara kita terasa berbeda tetapi sebenarnya jati diri kita adalah sama, kamu bukan ombak kecil, aku pun juga bukan ombak besar. Ombak besar dan ombak kecil adalah sifat kita yang sementara. Jati diri kita yang sejati sama, kita adalah air. Bila kamu menyadari bahwa kita sama-sama air, maka kamu tidak akan menderita lagi, kamu adalah air, setiap waktu kamu bisa menikmati menjadi ombak besar seperti aku, kuat gagah dan perkasa.”

Mendengar kata-kata bijak sang ombak besar, mendadak timbul kesadaran dalam diri ombak kecil. “Ya, benar, aku bukan ombak kecil. Jati diriku adalah air, tidak perlu aku berkecil hati dan menderita.”

Dan, sejak saat itu, si ombak kecil pun menyadari dan menemukan potensi dirinya yang maha dasyat. Dengan ketekunan dan keuletannya, ia berhasil menemukan cara-cara untuk menjadikan dirinya semakin besar, kuat, dan perkasa, sebagaimana sahabatnya yang dulu dianggapnya besar. Akhirnya, mereka hidup bersama dalam keharmonisan alam. Ada kalanya yang satu lebih besar dan yang lain kecil. Kadang yang satu lebih kuat dan yang lain lemah.
Begitulah, mereka menikmati siklus kehidupan dengan penuh hikmat dan kesadaran.

Sebagai manusia, sering kali kita terjebak dalam kebimbangan akibat situasi sulit yang kita hadapi, yang sesungguhnya itu hanyalah pernak-pernik atau tahapan dalam perjalanan kehidupan. Sering kali kita memvonis keadaan itu sebagai suratan takdir, lalu muncullah mitos-mitos: aku tidak beruntung, nasibku jelek, aku orang gagal, dan lebih parah lagi menganggap kondisi tersebut sebagai bentuk “ketidakadilan” Tuhan.

Dengan memahami bahwa jati diri kita adalah sama-sama manusia, tidak ada alasan untuk merasa kecil dan kerdil dibandingkan dengan orang lain. Karena sesungguhnya kesuksesan, kesejahteraan dan kebahagiaan bukan monopoli orang-orang tertentu, jika orang lain bisa sukses, kita pun juga bisa sukses! Kesadaran tentang jati diri bila telah mampu kita temukan, maka di dalam diri kita akan timbul daya dorong dan semangat hidup yang penuh gairah sedahsyat ombak besar di samudra nan luas. Siap menghadapi setiap tantangan dengan mental yang optimis aktif, dan siap mengembangkan potensi terbaik demi menapaki puncak tangga kesuksesan.

“Jati diri kita adalah sama-sama manusia! Tidak ada alasan untuk merasa kecil dan kerdil dibandingkan dengan orang lain. Jika orang lain bisa sukses, kita pun bisa sukses!”

Cerita 2:

Memberi Musuh Secercah Harapan

Banyak sekali kisah-kisah perang di cina yang dapat diaplikasikan dalam kehidupan bisnis yang kita jalankan sehari-hari. Dari buku tutur bijak negeri Cina yang saya lagi baca ini, ada sebuah strategi bagus ketika menghadapi musuh, tinggal sesuaikan strategi ini untuk keadaan-keadaan tertentu dan orang-orang “tertentu”. Pada 206 SM (15-220), ada seorang ahli negara yang hebat, seniman perang sekaligus sastrawan. Ia memimpin pasukannya untuk menyerang kota Huguan. Kota tersebut letaknya strategis dan sangat sulit diaksses. itulah alasan mengapa pasukan Cao berusaha keras untuk mencapainya. Karena sudah tidak sabar, Kao menjadi sangat marah dan berkata,”Ketika aku tiba di kota itu, aku akan segera membakar semuanya hidup-hidup.”

Perkataannya itu tersebar dengan cepat di seluruh kota. Para pembela kota tersebut merasa ketakutan jika hal itu benar-benar terjadi.Mereka pun berperang dengan mati-matian. Hasilnya, pasukan Cao mengalami kesulitan untuk memenangkan peperangan. Mereka berusaha memenangkan perang tersebut selama berbulan-bulan,tapi semuanya sia-sia. Cao menjadi semakin gelisah dan akhirnya ia berkonsultasi dengan jenderalnya untuk membuat sebuah rencana.

Pada rapat tersebut, Jenderal Cao Ren mengangkat kursinya dan berkata,”Seni perang mengatakan supaya kita tidak mengikat musuh kita terlalu kencang. Supaya musuh bisa pergi untuk bertahan hidup. Akan tetapi, sekarang kita telah memojokkan mereka. Dan raja telah menyatakan akan membakar mereka hidup-hidup. Hal ini hanya akan membuat mereka mati-matian melawan kita. Mereka lebih baik mati dalam perang daripada dibakar hidup-hidup. Aku perkirakan, musuh kita sudah hampir kehabisan persediaan makanan. Jika kita memberikan mereka sebuah harapan dengan membuka jalan untuk mereka keluar, kemungkinan besar mereka akan menyerah. Mereka lebih baik hidup daripada berperang hingga mati tanpa memperoleh apa-apa.

Cao menganggap ide tersebut masuk akan dan ia melakukannya seperti yang Jenderal katakan. Seperti yang telah diharapkan, pasukan pembela kota akhirnya menyerahkan diri kepada Cao. Kota akhirnya dikalahkan tanpa perlawanan yang sengit.

Dari cerita di atas, mengandung hikmah : ada kalanya untuk memenangkan suatu perkara tidak harus menggunakan cara yang keras, tapi bisa menggunakan cara yang damai, supaya tidak mengalami kerugian yang terlalu besar.

Janganlah selalu melawan yang keras dengan yang keras, ada kalanya bisa dengan kelembutan. Batu yang keras bisa dihancurkan oleh tetesan air yang terus menerus. keteguhan hati seseorang bisa dikalahkan dengan ketekunan yang terus menerus. Buat anda yang berprofesi sebagai marketing, ketekunan disertai proses belajar bisa menjadikan anda orang yang sukses.